Sebagai etnografer, Jasper tidak hanya mencatat hal-hal permukaan yang mudah dilihat, tetapi juga berusaha menggali tradisi-tradisi mendalam, bahkan yang dirahasiakan oleh penduduk setempat. Salah satu contohnya adalah caranya mendokumentasikan ritual pembangunan rumah adat di Sumbawa dan Bima. Dalam adat Bima, proses mendirikan rumah tradisional penuh dengan upacara dan kepercayaan tertentu. Ketika Jasper menanyakan detail tentang hal ini, para bangsawan dan tetua setempat awalnya enggan mengungkapkannya secara terbuka. Bagi mereka, ada hal-hal yang dianggap pamali atau tabu untuk dibagi kepada orang luar, apalagi menyangkut ritual yang sakral dan mungkin terdengar barbar.
Namun, berkat ketelatenan dan pendekatan persuasif Jasper, tabir kerahasiaan itu tersingkap sedikit demi sedikit. Jasper berhasil mencatat secara lengkap tata cara tradisional mendirikan rumah adat, mulai dari gotong royong (disebut basiroe di Sumbawa, haroek di Bima) hingga upacara penanaman tiang utama (Tiang Guru). Ia menguraikan bagaimana tukang kayu dan pemilik rumah bersamasama ke hutan memilih empat batang kayu untuk Tiang Guru, lalu melakukan ritual pengusiran roh dengan mengikat benang tujuh warna pada pohon yang akan ditebang dan meletakkan kendi air berisi koin perak di dekatnya. Jasper menuliskan kepercayaan lokal bahwa setiap langkah dalam mendirikan rumah harus mengikuti aturan adat agar bangunan “dingin” dan membawa berkah.


Ulasan
Belum ada ulasan.