KETIKA waktu beranjak menuju senja, Surya dan Sjenny duduk berdua di beranda rumah mereka yang tenang di satu sudut Kota Malang. Angin sore berhembus lembut membawa aroma kenangan dari masa muda, masa perju angan, dan masa penuh cinta.
Kini, di usia senja, keduanya tak lagi berkejaran dengan waktu. Mereka hanya ingin menikmati setiap detik yang tersisa, sambil merenungkan perjalanan panjang yang telah membawa mercka sampai di titik ini. Senja selalu datang dengan langkah perlahan, menghadirkan warna lembut di langit dan bayangan panjang di bumi. Begitu pula kehidupan Surya dan Sjenny yang kini berada di tepian perjalanan, di beranda senja kehidupan mereka.
Surya teringat masa-masa ketika dirinya berlari menembus rimba kehidupan, demi masa depan anak-anaknya dan anak-anak orang lain. Kini, setelah semua perjuangan itu terlalui, ia duduk tenang, memandang hasil dari benih yang pernah ia tanam. Bukan hanya keberhasilan mercka semua menembus langit menggapai dunia, tetapi juga mereka yang dulu hanya punya mimpi kecil, bahkan ada yang tak punya mimpi, kini tumbuh menjadi cahaya di negeri-negeri jauh.
Sjenny menatap Surya dengan mata yang lembut. Ia tahu, di balik setiap keberanian Surya, ada pergulatan batin yang panjang. Ada luka yang tak terlihat, ada letih yang tak pernah diucapkan. Namun cinta dan keyakinan selalu menjadi pelita yang membuat langkah mereka tak pernah padam.
Langit semakin jingga. Senja kian memudar. Namun hati mereka justru semakin terang, karena di balik redupnya cahaya hari, ada rasa syukur yang tak pernah pudar. Mereka menatap ke depan, bukan untuk mengejar apa yang belum tercapai, melainkan untuk menikmati ketenangan apa yang telah mereka perjuangkan.


Ulasan
Belum ada ulasan.