Pada dekade pertama abad ke-20, nasionalisme di wilayah ini berangkat dari akar religius yang kuat. Dalam halaqah dan madrasah, gagasan tentang harga diri, keadilan, dan martabat manusia digaungkan sebagai bagian dari ajaran moral. Nilai-nilai demikian menjelma menjadi energi spiritual yang mendorong masyarakat Banjar untuk menentang ketidakadilan kolonial. Di sinilah elite agama memainkan peran strategis: dengan bekal pendidikan Islam yang kokoh dan wawasan luas, mereka mampu membaca situasi politik, menafsirkan tekanan kolonial, dan menyusun strategi yang lebih terorganisir.
Keberadaan pendidikan Islam memberi keunggulan tersendiri bagi masyarakat Banjar. Melalui sekolah-sekolah Islam dan jaringan guru yang progresif, para santri memperoleh kemampuan membaca dunia luar—baik lewat kitab kuning, surat kabar, majalah, maupun buku-buku modern yang masuk melalui gelombang print capitalism. Literasi inilah yang membuka cakrawala baru, memperkenalkan huruf Latin, dan menyajikan gagasan universal seperti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Dari ruang-ruang itulah muncul generasi terdidik yang kritis, berani, dan sadar akan pentingnya memperjuangkan masa depan bangsanya.
Non Fiksi
MIMBAR PERLAWANAN; Pendidikan Islam, Tuan Guru, dan Fondasi Nasionalisme di Kalimantan Selatan
Judul: MIMBAR PERLAWANAN; Pendidikan Islam, Tuan Guru, dan Fondasi Nasionalisme di Kalimantan Selatan
Penulis: Wajidi
Editor: M.Z. Arifin Anis
Tebal buku: xx + 194 halaman
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Stok habis
Anda harus login untuk mengirimkan ulasan.


Ulasan
Belum ada ulasan.